tholabulilmiMau tanya tentang Hadits keutamaan Bersorban - 2008/02/12 "Hadits ini Maudhu' / Palsu" Dalam periwayatannya ada seseorang bernama Thoriq bin Abdurrahman, Imam Ad-Dzahabi telah menjelaskannya dalam kitab "Ad-Dhu'afa" beliau berkata, An-Nasa'i berkata: "Hadits ini tidak kuat". saya jawab secara singkat saja YthBapak/Ibu/Jamaah. Sebagai bagian dari syiar Islam, Jika ada yang ingin didiskusikan tentang masalah-masalah Agama Islam kiranya bisa kirim via email ke pengasuh Rubrik Tanya Jawab, yaitu: contact@raudhatuljannah-gma.com. Insya Allah akan dijawab oleh narasumber kita yaitu Bapak Ustad DR. H. Syahrir Nuhun,Lc, M. THI. ForumTanya Jawab Masalah Keislaman. Tentang kesunnahan membaca surah al Kahfi di hari Jum'at, hal ini telah disepakati berdasarkan hadits shahih. Al Iraqi memasukkan dalam 'Aradhatul Akhudzi menyatakan dhaif namun bukan hadits maudhu'. [6] Hadits riwayat Abu Daud no.2589, HR. Darimi no.3458, HR. Abu Ya'la 6224. Haditsini diriwayatkan oleh Thabrani (w. 360 H) dalam kitab Al-Mu'jam Al-Shaghir (2: 149, hadits no. 940). Hadits ini merupakan hadits gharib. Dalam sanadnya terdapat Al-Hakam yang tidak ada orang yang meriwayatkan darinya kecuali Ismail bin Muslim, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Ismail bin Muslim kecuali Hammam. Kedua Jika sudah jelas bahwa hadits tersebut hadits mawdhû' (palsu) maka kita tidak boleh menjadikannya sebagai dalil hukum syara', termasuk menjadikannya sebagai dalil anjuran kekhususan berhubungan suami istri di malam Jum'at. Tag tanya jawab hadits maudhu. Hadits Awas Hadits-hadits Palsu Tentang Bulan Rajab. Hadits | Sab 5 Rajab 1441H 29-2-2020M Sab 2 Sya'ban 1443H 5-3-2022M oleh Islam Hari Ini. Pada artikel sebelumya kita telah membahas tentang Hadits-hadits Dhaif Tentang Bulan Rajab. Kali ini kami menyajikan beberapa hadits palsu tentang bulan rajab . 3/6, 11:20 AM] Taufiqurrahman: Ustaz, hadis maudhu yang diada- adakan tetapi dibuktikan tidak benar. Apakah pembuktian kebenarannya itu bisa melalui research dan pembuktian para saintis? Karena banyak ribuan hadis palsu yang beredar dan diyakini kebenarannya.🙏🏻 [3/6, 11:27 AM] Taufiqurrahman: Terimakasih ustaz atas penjelasanya 4YYdYZ. Selain Al-Quran, di dalam ajaran agama Islam juga mengenal hadits sebagai salah satu pedoman dalam berperilaku. Hadits Maudhu merupakan salah satu jenis hadits yang harus dipelajari maknanya. Selain itu, Anda juga harus mencari tahu berbagai contoh Hadits Maudhu. Memangnya, seperti apa contoh jenis hadits yang satu ini? Contoh hadits yang termasuk jenis Maudhu dapat dipelajari di dalam artikel ini. Selain itu, artikel ini juga akan membahas berbagai informasi lebih lengkap tentang Hadits Maudhu termasuk sejarah dan hukumnya. Pengertian dan Definisi Apa yang dimaksud dengan maudhu? Istilah maudhu memiliki beberapa arti, yaitu menggugurkan, membatalkan, mengada-ada, merekayasa, memalsukan, membuat-buat, dan mereka-reka. Selain itu, istilah Maudhu juga sering kali dikaitkan dengan arti palsu. Beli podium minimalis dari Jaya Madani. Dibuat secara handcrafting, memiliki presisi tinggi dan stainless steel. Oleh karena itu, pengertian Hadits Maudhu adalah salah satu jenis hadits palsu atau tidak benar yang dinisbahkan kepada Rasulullah dengan cara dusta atau mengada-ada. Jenis hadits yang satu ini tidak pernah Rasulullah sabdakan, kerjakan, bahkan taqrirkan. Bagaimana kedudukan jenis hadits yang satu ini? Hadits Maudhu atau hadits palsu menduduki tingkatan yang paling rendah dan buruk dalam tingkatan Hadits Dha’if. Beberapa ulama bahkan menganggap Hadits Maudhu atau hadits palsu bukan bagian dari jenis Hadits Dhaif. Munculnya beragam contoh Hadits Maudhu memang sangat disayangkan karena dapat menodai hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Rasulullah. Hadits palsu bisa muncul karena dibuat secara sengaja oleh beberapa orang dengan berbagai tujuan tertentu untuk keberadaan agama Islam. Bagaimana Hadits Maudhu bisa muncul? Perkembangan ilmu pengetahuan Islam yang sangat pesat membuat para imam mujtahid yang saling menghormati mulai muncul dalam berbagai bidang, termasuk bidang fiqih dan ilmu kalam. Pada abad ketiga Hijriah, pengikut masing-masing imam mulai berpikir dan menganggap pendapat yang benar hanya berasal dari imam yang diikutinya. Kondisi tersebut memicu banyak perbedaan pendapat, sehingga pengikut madzhab yang sangat fanatik menciptakan berbagai hadits palsu Tujuan latar belakang munculnya Hadits Maudhu adalah mendukung madzhab atau pendapat yang diyakininya. Selain itu, adanya hadits palsu dibuat untuk menjatuhkan pendapat dari lawannya. Selain itu, kaum yang memusuhi Islam juga mulai membuat hadits-hadits palsu untuk merusak ajaran Islam. Tidak hanya itu, ada juga kaum pembuat kisah yang membuat hadits palsu untuk menarik perhatian para pendengarnya. Ketika para sahabat Rasulullah masih hidup, hadits-hadits palsu yang tersebar di masa tersebut belum begitu meluas. Hal ini karena Nabi Muhammad sebelumnya juga pernah memperingatkan akan kehadiran hadits-hadits palsu. Para sahabat Nabi Muhammad melakukan berbagai upaya agar praktik pemalsuan tidak bertambah luas. Namun, ketika para sahabat sudah banyak yang meninggal, hadits-hadits palsu mulai bermunculan kembali dan tersebar makin luas. Pemalsuan hadits tersebut dilakukan oleh umat di luar Islam maupun umat Islam tertentu karena berbagai alasan atau faktor pendukung. Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Hadits Palsu Dilihat dari sejarahnya, kemunculan berbagai Hadits Maudhu atau hadits palsu terjadi karena beberapa faktor penyebab. Apa saja penyebab munculnya hadits palsu? Berikut ini beberapa faktor yang menjadi pemicu atau penyebab munculnya Hadits Maudhu, yaitu Terjadinya pertikaian politikPerselisihan yang terjadi antara satu pengikut madzhab dengan pengikut madzhab lainnyaSerangan untuk menjatuhkan agama IslamFaktor kebodohanKeinginan untuk menciptakan cerita menarikFaktor ekonomi untuk mencari uangFanatisme yang keliru dan berlebihan terhadap ras, kalibah, bahasa, dan tanah airnya sendiriMencari popularitas di tengah-tengah kelompok masyarakatKepentingan pribadi atau kelompok untuk melakukan pembalasan terhadap kelompok lainnya Bagaimana Cara Mengetahui Hadits Maudhu/ Palsu? Terdapat beberapa cara untuk mengetahui suatu hadits palsu atau tidak. Bagaimana caranya? Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahuinya, yaitu Pengakuan langsung dari pembuat Hadits MaudhuDicari dan diperoleh berdasarkan runutan pengakuannyaMelalui indikasi dari perawi hadits tersebutMelalui indikasi yang ada di dalam hadits tersebut Hukum Meriwayatkan dan Mengamalkan Hadits Maudhu Bagaimana hukumnya untuk meriwayatkan dan mengamalkan jenis Hadits Maudhu? Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang hukum meriwayatkan atau mengamalkan hadits palsu, yaitu 1. Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu Hadits Maudhu tidak boleh diriwayatkan ketika sudah diketahui statusnya. Jika akan diriwayatkan, maka hadits tersebut harus disertai penjelasan yang menerangkan tentang status maudhu atau palsu. Hukum meriwayatkan Hadits Maudhu tersebut sudah disepakati oleh semua ulama. 2. Hukum Mengamalkan Hadits Maudhu Hadits Maudhu juga tidak boleh diamalkan secara mutlak. Pendapat tersebut disampaikan oleh Syaikh Khalid Abdul Mun’im ar-Rifa’i. Namun, Hadits Maudhu boleh diceritakan dengan tujuan memberi peringatan akan kepalsuan dari hadits tersebut. Contoh Hadits Maudhu Hadits Maudhu tidak hanya dipelajari dari pengertian, sejarah, faktor penyebab, dan hukumnya saja, tetapi Anda juga harus mengetahui berbagai contoh hadits tersebut. Berikut ini beberapa contoh Hadits Maudhu dan artinya yang harus Anda ketahui, yaitu 1. Hadits Maudhu tentang Mencari Rezeki Terdapat Hadits Maudhu yang membahas tentang rezeki, yaitu إنَّ اللهَ يحبُّ أن يرى عبدَه تعبًا في طلبِ الحلالِ Inalloha yuhibbu an yaro abdahu ta’iban fi tholabil halal “Sesungguhnya Allah suka melihat hamba-Nya yang lelah dalam mencari rezeki yang halal.” Riwayat hadits tersebut maudhu’. Al-Hafizh al-Iraqi mengatakan bahwa dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sahl Al-Aththar. Ad-Daruquthni menyatakan bahwa al-Aththar adalah pemalsu hadits. [Silsilah Hadits Dha’if Jilid 1, Muhammad Nashirudin Al-Albani, Gema Insani Press, Jakarta, 1995, hadits no 10. hal 41] 2. Hadits Maudhu tentang Keutamaan Tafakkur Berikut ini contoh dari jenis hadits palsu tentang keutamaan Tafakkur, yaitu Hadits tentang tafakkur ini, kadang disampaikan dalam khutbah tentang keutamaan tafakkur tanpa penjelasan status haditsnya oleh para khatib. Padahal hadits tentang tafakkur ini merupakan salah satu contoh hadits maudhu atau hadits palsu. فكرة ساعة خير من عبادة ستين سنة Fikroh sa’ah khoirun min ibadati sittiina sanah. “Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun.” Hadits ini maudhu’. Diriwayatkan oleh Ibnul jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dengan sanad dari Utsman bin Abdullah al-Qurasyi dari ishaq bin Najih al-Multhi, dari atha’ Al-Khurasani dari Abu Hurairah. Ibnul Jauzi berkata, “Utsman dan gurunya adalah pendusta.” [Silsilah Hadits Dha’if Jilid 1, Muhammad Nashirudin Al-Albani, Gema Insani Press, Jakarta, 1995, hadits no. 173, hal. 157] 3. Contoh Hadits Maudhu Perselisihan Umat Seperti apa contoh hadits palsu? Berikut ini contoh dari hadits palsu yang membahas tentang perselisihan umat, yaitu اختلاف أمتي رحمة Ikhtilafu ummati rahmah. “Perselisihan ikhtilaf di antara umatku adalah rahmat.” Hadits ini tidak ada sumbernya. Imam As-Subki mengatakan, “Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadits dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang shahih, dha’if ataupun maudhu’ Ibnu Hazm dalam kitab Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam V/64 menyatakan, “Ini bukan hadits.” [Silsilah Hadits Dha’if Jilid 1, Muhammad Nashirudin Al-Albani, Gema Insani Press, Jakarta, 1995, hadits no. 57. hal 68-69] 4. Hadits Maudhu tentang Dunia dan Akhirat Hadits palsu juga ada yang membahas tentang dunia dan akhirat. Berikut ini contohnya, yaitu “Sebaik-baik kalian adalah yang tidak meninggalkan unson akhirat nya untuk kepentingan dunianya, dan tidak pula meninggalkan kepentingan dunianya untuk kepentingan akhiratnya, dan tidak menjadi beban bagi manusia.” Menurut Abu Bakar al-Uzdiya dalam kitab al-Hadits dan al-Khathib, hadits ini termasuk dalam hadits maudhu dengan sanad dari Naim bin Salim bin Qunbur, dari Anas bin Malik ra. Sanad riwayat hadits ini digolongkan maudhu karena Yughnam bin Salim disebutkan oleh Abu Hatim sebagai perawi sanad yang dha’if. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, “la pernah memalsukan sanad yang dinisbatkan kepada Anas bin Malik”. Contoh Hadits Maudhu dapat digunakan sebagai salah satu pembelajaran tentang hadits-hadits palsu. Mempelajari tentang hadits palsu akan membuat Anda lebih hati-hati dan waspada serta mengetahui status kepalsuan dari sebuah hadits. Beli podium minimalis dari Kami merupakan anak perusahaan Jaya Madani yang fokus pada sektor produk podium dan mimbar minimalis. Klik disini untuk konsultasi dengan admin kami sekarang juga. Penjelasan Tentang Apa Itu Hadits Musnad dan Muttashil? Matan Baiquniyyah Matan al-Baiquniyyah وَالْمُسْنَدُ المُتَّصِلُ الإِسْنَادِ مِنْ ... رَاوِيهِ حَتَّى المُصْطَفَى وَلَمْ يَبِنْ Dan musnad adalah yang sanadnya bersambung...para perawinya sampai kepada al-Musthofa Nabi dan tidak terputus وَمَا بِسَمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِلْ ... إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِلْ Dan setiap hadits yang setiap perawi mendengarkan dari perawi sebelumnya secara bersambung...sanadnya kepada al-Musthofa Nabi, maka itu disebut muttashil Mandzhumah al-Baiquniyyah Penjelasan Musnad yang dimaksud dalam definisi al-Imam al-Baiquniy ini adalah riwayat marfu’ yang bersambung sanadnya. Bersambungnya sanad disebut dengan istilah muttashil. Muttashil adalah riwayat bersambung, sedangkan musnad adalah bersanad sampai Nabi. Muttashil berlaku pada hadits marfu’ maupun yang tidak marfu’. Syarat hadits disebut muttashil adalah jika semua perawi benar-benar mendengar dari perawi di atasnya secara langsung. Musnad adalah marfu’ yang muttashil. Setiap musnad adalah muttashil, namun tidak setiap muttashil adalah musnad. Musnad tidak selalu shahih, karena ia hanya memenuhi syarat hadits shahih dalam hal bersambung sanadnya. Bisa jadi meski sanadnya bersambung, perawinya lemah atau majhul tidak dikenal, atau merupakan riwayat yang syadz, atau mengandung illat qodihah. Akibatnya, meski bersambung sanadnya, riwayat itu tidak Ulama menyusun beberapa kitab musnad dengan pengelompokan berdasarkan kriteria tertentu Pertama Kitab musnad yang dikelompokkan berdasarkan nama Sahabat Nabi. Beberapa kitab yang disusun demikian adalah Musnad Ahmad, musnad Abi Hanifah, musnad Abi Ya’la, musnad Abi Bakr al-Marwaziy, musnad al-Humaidiy, musnad atThoyaalisiy, Musnad Aisyah Ibnu Abi Dawud, musnad Abd bin Humaid, musnad Umar bin al-Khoththob Ibnu an-Najjaad. Kedua Kitab musnad yang dikelompokkan berdasarkan pengelompokan bab fiqh maupun akidah. Kitab-kitab yang seperti ini adalah musnad asy-Syafii, musnad arRobi’ bin Habiib, musnad Abdullah bin al-Mubaarak, musnad al-Harits, musnad asy-Syihaab. Musnad Ahmad Salah satu kitab musnad yang terkenal adalah kitab musnad yang disusun oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Hadits-hadits dalam kitab itu disusun dan dikelompokkan berdasarkan nama Sahabat Nabi yang meriwayatkan. Ada sekitar 700-an Sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits dalam musnad tersebut. Total jumlah hadits dalam musnad Ahmad adalah sekitar 40 ribu hadits dengan pengulangan. Sedangkan jika tanpa pengulangan, jumlahnya sekitar 30 ribu hadits. Sebagian Ulama berpendapat bahwa musnad Ahmad hanya berisi hadits shahih, hasan, dan dhaif yang mendekati hasan. Tidak ada yang maudhu’. Ulama yang berpendapat demikian, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, adz-Dzahabiy, al-Hafidz Ibnu Hajar, dan as-Suyuthiy. Sebagian Ulama berpendapat bahwa dalam musnad Ahmad ada yang maudhu’. Ibnul Jauzi menilai ada 29 hadits maudhu’, ditambah 9 hadits oleh al-Iraqiy. Pendapat yang benar adalah secara asal, hadits dalam Musnad Ahmad tidak ada yang maudhu’. Adapun tambahan dari putra Ahmad Abdullah dan juga Abu Bakr al-Quthoy’iy bisa jadi ada yang maudhu’. Demikian ringkasan penjelasan Syaikhul Islam dalam Minhajus Sunnah. Wallaahu A'lam dikutip dari naskah buku "Mudah Memahami Ilmu Mustholah Hadits Syarh Mandzhumah al-Baiquniyyah, Abu Utsman Kharisman WA al I'tishom Category 2023 Derajat Hadits Keutamaan Wakaf Mushaf Al-Qur’an8 Jun Membaca Al-Qur’an, Membuat Rumah Terasa Lapang11 May 2022 Apa Perbedaan Antara Hadits, Khabar, dan Atsar?30 Jul 2020 Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing – Syarah Hadits4 Jun Periode Pembukuan dan Pengumpulan Hadis Nabi3 Apr Menyambut Bulan Ramadhan Jauh-jauh Hari2 Apr 2019 Hadis Maudhu Palsu dan Larangan Mengamalkannya16 Dec Makna Hadis “Bukan Bagian dari Golonganku”13 Dec Hadis Palsu Kebersihan Sebagian dari Iman?24 Oct 2018 Haram Menebang Pohon Bidara?9 Nov Tak Ada Sholat Saat Makanan Telah Dihidangkan?5 Mar Benarkah Cinta Negara Bagian dari Iman?28 Feb Darurat Hadis Palsu di MedSos12 Jan 2017 Merayakan Maulid dapat Syafaat Nabi?29 Nov Doa Ketika Melihat Ka’bah, Tidak Ada Dalilnya?3 Jul Halal yang Dibenci Allah18 Apr Ayah Nabi Calon Disembelih?31 Mar Hadis Bithaqah Kartu Ajaib1 Mar 2016 Biografi Syaikh Syu’aib al-Arnauth, Pakar Hadis Abad ini3 Nov Makna Hadis Muttafaq alaih’28 Oct Mengenal Bulan Dzulqa’dah15 Aug Makna Hadis Tentang Sombong12 May Merahasiakan Lamaran, Hadisnya Dhaif?29 Apr Makna Hadis, Perbarui Iman dengan Laa ilaaha illallaah27 Apr Kisah Bacaan At-Tahiyat ketika Isra Mi’raj23 Mar Memegang Tangan Istri, Menggugurkan Dosa?14 Mar 2015 Hadis Abu Hurairah Ada yang Hilang?14 Dec Berfikir Sesaat Lebih Baik dari Beribadah 60 Tahun?12 Dec Makna Hadis Menikah Menyempurnakan Setengah Agama7 Dec Amal Sunah Bernilai Wajib di Bulan Ramadhan, Hadis Dhaif?19 Jun Diasuh Oleh Ust M Shiddiq Al Jawi Tanya Ustadz tolong jelaskan status hadits “hubbul wathon minal iman” cinta tanah air sebagian dari iman? Ismail, Tangerang, 081-696-3841 Jawab Ungkapan “hubbul wathon minal iman” memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh nasionalis, mubaligh, dan juga da`i yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam. Namun sayang, sebenarnya ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu maudhu’. Dengan kata lain, ia bukanlah hadits. Demikianlah menurut para ulama ahli hadits yang terpercaya, sebagaimana akan diterangkan kemudian. Mereka yang mendalami hadits, walaupun belum terlalu mendalam dan luas, akan dengan mudah mengetahui kepalsuan hadits tersebut. Lebih-lebih setelah banyaknya kitab-kitab yang secara khusus menjelaskan hadits-hadits dha’if lemah dan palsu, misalnya Kitab Tahdzirul Muslimin min al-Ahadits a-Maudhu’ah Ala Sayyid al-Mursalinkarya Syaikh Muhammad bin al-Basyir bin Zhafir al-Azhari asy-Syafi’i w. 1328 H Beirut Darul Kutub al-Ilmiyah, 1999, hlm. 109; dan Kitab Bukan Sabda Nabi! Laysa min Qaul an-nabiy SAW karya Muhammad Fuad Syakir, diterjemahkan oleh Ahmad Sunarto, Semarang Pustaka Zaman, 2005, hlm. 226. Kitab-kitab tersebut mudah dijangkau dan dipelajari oleh para pemula dalam ilmu hadits di Indonesia, sebelum menelaah kitab-kitab khusus lainnya tentang hadits-hadits palsu, seperti Kitab Al-Maudhu’atkarya Ibnul Jauzi w. 597 H; Kitab Al-La`aali al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ahkarya Imam as-Suyuthi w. 911 H; Kitab Tanzih Asy-Syari’ah al-Marfu`ah an Al-Ahadits Asy-Syani’ah Al-Maudhu`ahkarya Ibnu Arraq Al-Kanani. Lihat Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, hlm. 93. Berikut akan kami jelaskan penilaian para ulama hadits yang menjelaskan kepalsuan hadits “hubbul wathon minal iman”. Dalam kitab Tahdzirul Muslimin karya Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i hlm. 109 tersebut diterangkan, bahwa hadits “hubbul wathon minal iman” adalah maudhu` palsu. Demikianlah penilaian Imam as-Sakhawi dan Imam ash-Shaghani. Imam as-Sakhawi w. 902 H menerangkan kepalsuannya dalam kitabnya al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsirin min al-Ahadits al-Musytaharah ala Alsinah, halaman 115. Sementara Imam ash-Shaghani w. 650 H menerangkan kepalsuannya dalam kitabnya Al-Maudhu’at, halaman 8. Penilaian palsunya hadits tersebut juga dapat dirujuk pada referensi-referensi al-maraji’ lainnya sebagai berikut Kasyful Al-Khafa` wa Muziilu al-Ilbas, karya Imam Al-Ajluni w. 1162 H, Juz I hlm. 423; Ad-Durar Al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Masyhurah, karya Imam Suyuthi w. 911 H, hlm. 74; At-Tadzkirah fi al-Ahadits al-Musytaharah, karya Imam Az-Zarkasyi w. 794 H, hlm. 11. Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i, Tahdzirul Muslimin min al-Ahadits a-Maudhu’ah Ala Sayyid al-Mursalin, hlm. 109 Ringkasnya, ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu maudhu’ alias bukanlah hadits Nabi SAW. Hadits maudhu’ adalah hadits yang didustakan al-hadits al-makdzub, atau hadits yang sengaja diciptakan dan dibuat-buat al-mukhtalaq al-mashnu` yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Artinya, pembuat hadits maudhu` sengaja membuat dan mengadakan-adakan hadits yang sebenarnya tidak ada Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i, Tahdzirul Muslimin, hlm. 35; Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, hlm. 89. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, meriwayatkan hadits maudhu’ adalah haram hukumnya bagi orang yang mengetahui kemaudhu’an hadits itu serta termasuk salah satu dosa besar kaba`ir, kecuali disertai penjelasan mengenai statusnya sebagai hadits maudhu’ Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i, Tahdzirul Muslimin, hlm. 43. Maka dari itu, saya peringatkan kepada seluruh kaum muslimin, agar tidak mengatakan “hubbul wathon minal iman” sebagai hadits Nabi SAW, sebab Nabi SAW faktanya memang tidak pernah mengatakannya. Menisbatkan ungkapan itu kepada Nabi SAW adalah sebuah kedustaan yang nyata atas nama Nabi SAW dan merupakan dosa besar di sisi Allah SWT. Nabi SAW bersabda ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” Hadits Mutawatir. Terlebih lagi Islam memang tidak pernah mengenal paham nasionalisme atau patriotisme yang kafir itu, kecuali setelah adanya Perang Pemikiran al-ghazwul fikri yang dilancarkan kaum penjajah. Kedua paham sesat ini terbukti telah memecah-belah kaum muslimin seluruh dunia menjadi terkotak-kotak dalam wadah puluhan negara bangsa nation-state yang sempit, mencekik, dan membelenggu. Maka, kaum muslimin yang terpasung itu wajib membebaskan diri dari kerangkeng-kerangkeng palsu bernama negara-negara bangsa itu. Kaum muslimin pun wajib bersatu di bawah kepemimpinan seorang Imam Khalifah yang akan mempersatukan kaum muslimin seluruh dunia dalam satu Khilafah yang mengikuti minhaj nubuwwah. Semoga datangnya pertolongan Allah ini telah dekat kepada kita semua. Amin. Pendahuluan Hadits merupakan penjelas makna ayat-ayat al-Qur’an, bahkan contoh praktis bagaimana seorang muslim melaksanakan ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an. Demikian penting peranan hadits dalam agama Islam, banyak musuh Islam melakukan serangan kepada ajaran Islam dengan membuat dan menyebarkan hadits palsu. Bahkan karena kurangnya ilmu, orang Islam sendiri juga bisa tergoda untuk membuat hadits palsu. A. Pengertian Para ulama memberikan definisi sebagai berikut الحديث الموضوع هو الحديث المُختَلق المصنوع المكذوب على النبي صلى الله عليه وسلم سواء كان عن عمد أو غير عمد Hadits Maudhu’ yaitu hadits yang dibuat sendiri oleh seorang perawi, lalu menisbahkannya kepada Rasulullah Saw. Baik secara sengaja maupun tidak. Istilah mudahnya, hadits maudhu’ itu adalah hadits palsu. Sama maknanya dengan ijazah palsu, polisi palsu, ataupun tangan palsu. B. Macam-macam Hadits Maudhu’ dan Contohnya Berdasarkan definisi di atas, maka hadits maudhu’ itu ada dua macam. Yaitu hadits maudhu’ yang dilakukan secara sengaja oleh seorang perawi dan hadits maudhu’ yang dilakukan secara tidak sengaja. a. Hadits Maudhu’ Yang Sengaja Berikut ini merupakan beberapa contoh hadits maudhu’ حبُّ الوطن من الإيمان Cinta tanah air merupakan bagian dari iman. إنَّ الله تعالى لا يعذبُ حسان الوجوه Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab wajah yang rupawan. لا يدخل النارَ مَن اسمهُ محمد أو أحمد Tidak akan masuk neraka orang yang namanya Muhammad atau Ahmad. b. Hadits Mudhu’ Yang Tidak Sengaja Berikut ini contoh hadits maudhu’ yang tidak sengaja عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدٍ الطَّلْحِيِّ، عَنْ ثَابِتِ بْنِ مُوسَى الزَّاهِدِ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، مَرْفُوعًا “مَنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ. رواه ابن ماجه Dari Ismail bin Muhammad at-Thalhi, dari Tsabit bin Musa az-Zahidi, dari Syarik, dari al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, yang diriwayatkan secara marfu’ bersambung dari Rasulullah Saw. Barangsiapa banyak shalat malam, maka wajahnya akan berseri-seri di siang hari.” HR. Ibnu Majah Imam Hakim memberikan keterangan tentang hadits di atas دَخَلَ ثَابِتٌ عَلَى شَرِيكٍ وَهُوَ يُمْلِي، وَيَقُولُ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، وَسَكَتَ؛ لِيَكْتُبَ الْمُسْتَمْلِي، فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى ثَابِتٍ، قَالَ مَنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ، وَقَصَدَ بِذَلِكَ ثَابِتًا؛ لِزُهْدِهِ وَوَرَعِهِ، فَظَنَّ ثَابِتٌ أَنَّهُ مَتْنُ ذَلِكَ الْإِسْنَادِ؛ فَكَانَ يُحَدِّثُ بِهِ Waktu itu Tsabit datang ketika Syarik sedang mendiktekan hadits. Syarik berkata Dari al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir dia berkata Bersabda Rasululluah Saw. Lalu Syarik berhenti sejenak. Memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk menulis. Kemudian Syarik melihat Tsabit yang baru datang. Lalu Syarik berkata Barangsiapa banyak shalat malam, maka wajahnya akan berseri-seri di siang hari. Maksudnya Syarik sedang memuji Tsabit yang dia seorang murid yang zuhud dan wirai. Sementara Tsabit salah sangka. Dia mengira bahwa pujian Syarik itu merupakan matan bagi sanad tersebut. Sehingga Tsabit pun meriwayatkannya sebagai sebuah hadits. Nah, itulah salah satu contoh hadits maudhu’ yang secara tidak sengaja telah dibuat oleh seorang perawi. C. Hukum Menyampaikan Hadits Maudhu’ Bila kita sudah mengetahui bahwa suatu hadits merupakan hadits palsu, maka haram hukumnya menyampaikan hadits itu kepada orang lain. Kecuali untuk menerangkan kepalsuannya. Rasulullah Saw. bersabda مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ “Barangsiapa menyampaikan berita tentang diriku, dan dia sudah mengetahui bahwa berita itu dusta, maka dia termasuk seorang pendusta.” HR. Imam Muslim. D. Cara Mendeteksi Hadits Maudhu’ Sebuah ditengarai sebagai hadits palsu atau hadits maudhu’, apabila menunjukkan indikasi sebagai berikut 1. Pengakuan perawi Sebagaimana hal ini pernah diakui oleh seorang perawi yang bernama Abu Ishmah Nuh bin Abi Maryam. Dia mengaku telah membuat banyak hadis palsu yang dia nisbahkan pada Abdullah bin Abbas. Juga pengakuan seorang perawi yanga bernama Maisarah bin Abdi Rabbih al-Farisi. Dia mengaku telah membuat banyak hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib sebanyak 70 hadits. 2. Semacam pengakuan dari perawi Misalnya ada seorang perawi yang meriwayatkan dari syeikhnya sebuah hadits yang tidak diriwayatkan dari jalur yang lain. Kemudian dia ditanya mengenai tanggal lahirnya. Setelah dicek tanggal wafat syeikhnya, diketahui bahwa dia tidak mungkin pernah bertemu dengan syeikhnya. Atau setidaknya usianya terlampau muda untuk meriwayatkan hadits dari syeikhnya. 3. Adanya indikasi pada diri perawi Misalnya seorang Syi’ah Rafidhah yang meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. 4. Adanya indikasi pada berita yang diriwayatkan Yaitu sebuah hadits yang isinya – berseberangan dengan akal sehat. – bertentangan dengan kenyataan yang bisa dilihat atau dirasakan dengan mudah. – berlawanan dengan ayat al-Qur’an yang bermakna tegas sharih – memiliki redaksi kalimat yang buruk. Misalnya – sebuah berita yang disampaikan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa kapal Nabi Nuh thawaf sebanyak tujuh kali, lalu shalat di dekat maqam bekas telapak kaki Ibrahim dua rakaat. – bahwa seorang anak hasil perzinahan tidak akan masuk surga hingga tujuh turunan. E. Alasan Orang Membuat Hadits Palsu Terdapat beberapa alasan orang tega membuat hadits palsu, di antaranya 1. Membuat kisah dan nasihat yang menarik Untuk menarik perhatian orang awam, adakalanya orang suka membuat kisah-kisah yang tidak masuk akal, sehingga membuat banyak orang takjub. Dengan harapan banyak orang yang mengundangnya untuk berceramah dan memperoleh upah. Maka dia membuat hadits palsu sebagai berikut “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaah illallaah, maka untuk setiap katanya Allah akan menciptakan seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas, dan sayapnya terbuat dari permata.” Ketika perawi hadits itu ditanya, dia pun mengaku telah membuatnya sendiri. Dia berkata, bahwa dia ingin membuat orang senang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah. 2. Fanatik golongan Hadits palsu untuk kepentingan golongan ini banyak dibuat oleh Syiah Rafidhah. Imam Malik berpesan, bahwa jangan sampai kita menerima hadits dari mereka. Karena mereka banyak berdusta. Misalnya hadits palsu berikut ini “Aku Rasulullah Saw. adalah timbangan ilmu. Ali adalah kedua piring timbangan. Hasan dan Husain adalah tali-talinya. Fathimah adalah tangan timbangan. Dan para pemimpin dari keluarga kami adala penyangga timbangan. Di mana amal para pecinta dan pembenci kami akan ditimbang.” Adapun kelompok yang paling mustahil membuat hadits palsu adalah Khawarij. Karena mereka menganggap kafir orang yang berbuat dosa. Apalagi membuat hadits palsu. 3. Memusuhi Agama Islam Para musuh Islam tidak mampu membendung arus kemenangan agama Islam. Maka mereka berpura-pura masuk Islam dengan membawa kebencian kepada ajaran-ajaran Islam dengan membuat hadits-hadits palsu. Isinya merendahkan ajaran Islam. Seperti seorang perawi yang bernama Abdul Karim bin Abi Auja’. Dia dibunuh oleh Gubernur Basrah, Muhammad bin Sulaiman al-Abbasi. Sebelum dibunuh dia mengaku, bahwa dia telah membuat hadits palsu tentang hukum Islam. Contoh hadits palsu yang merendahkan ajaran Islam “Allah menciptakan para malaikat dari bulu dada dan kedua tangan-Nya.” 4. Menyenangkan para penguasa dan mengambil keuntungan pribadi Misalnya ada orang yang bernama Ghiyats bin Ibrahim Nakha’i. Dia bertemu dengan al-Mahdi salah satu khalifah dalam Dinasti Abbasiyah sedang bermain-main dengan burung merpati. Maka secara spontan dia membuat hadits palsu untuk menyenangkan al-Mahdi. Dan benar saja, al-Mahdi pun memberikan uang sebanyak dirham kepingan perak. Namun setelah Ghiyats itu pergi, al-Mahdi berkata “Sungguh aku mengetahui bahwa orang itu seorang pendusta atas diri Rasulullah Saw.” Lalu al-Mahdi menyuruh orang untuk menyembelih burung merpati itu. Penutup Demikianlah beberapa penjelasan tentang hadits maudhu’ atau hadits palsu ini. Semoga bermanfaat bagi kita bersama. Allahu a’lam. _____________________ Bacaan utama Kitab Mabahits fi Ulumil Hadits, Syeikh Manna’ al-Qatthan, rahimatullah. Artikel Syarh al-Hadits al-Maudhu’. Syeikh Muhammad Thaha Sya’ban. Artikel al-Ahadits adh-Dha’ifah wa Atsaruha. Syeikh Ibrahim bin Abdullah al-Mazru’i.

tanya jawab tentang hadits maudhu